Aqua regia

Aqua regia (bahasa Latin yang berarti "air kerajaan") adalah larutan yang dibuat dari percampuran asam klorida pekat dan asam nitrat pekat dengan perbandingan 3:1. Larutan ini bersifat sangat korosif, mengeluarkan uap berwarna kuning. Hanya larutan inilah yang sanggup melarutkan emas dan platina (logam-logam yang paling mulia menurut deret Volta), oleh karenanyalah disebut sebagai aqua regia atau Air Raja. Karena sifatnya yang kurang stabil, maka larutan ini baru dibuat jika akan dipakai.

Asap Cair untuk Pengawetan Kayu

Jika kita memotong pohon untuk kayu yang masih muda, biasanya akan mendapatkan kayu yang muda juga. warnanya terlihat putih. Tidak kelihatan tua. Harga jualnya pun pasti tidak akan sebesar kayu yang tua. atau jika ada pemborong yang ingin mendapatkan kayu yang kelihatan tua tetapi dengan harga yang murah, biasanya si tukang kayu akan memberi kayu yang memang kualitasnya tidak sebagus yang tua tetapi nampak tua. nah kalau terjadi seperti ini, biasanya para tukang kayu sering ngakalin “nakal dikit”. mereka biasa membuat “Nampak” Tua pada kayu. kira-kira apa yang mereka lakukan ya..? kalau dari penelusuran kepada tukang kayu, biasanya memakai trik “ngakalin” tersebut dengan cara memoles kayu dengan cairan kimia seperti soda api atau NaOH atau Natrium Hidroksida. pemolesan kayu dengan NaOH, sekilas memang akan menghitamkan kayu yang muda menjadi nampak tua. Cara ini umum dilakukan oleh para tukang kayu.

NaOH adalah termasuk basa keras, jika direaksikan dengan air, maka dia akan mengeluarkan panas. Aplikasi NaOH sangat banyak dilapangan. bisa untuk bahan sabun, katalis dan lain-lain. atau cara yang umum biasanya untuk memecah sumbatan pada saluran pembuangan. sumbatan yang terdiri dari kotoran biasanya akan hancur terkena NaOH.

Nah, sekarang bagaimana dengan NaOH jika digunakan untuk kayu..?

NaOH yang dilarutkan dalam air, maka akan mencair dan menimbulkan panas. Lalu jika dipoleskan ke dalam Kayu, menyerap ke dalam kayu, maka kayu akan terlihat menghitam setelah mengering. ada proses pemasakan pada kayu. Berhasil sudah cara penuaan pada kayu.

Nah, itu cara penuaan kayu secara kimia. Lalu ada gak kira-kira cara yang lain yang menggunakan bahan organik atau alami. yang tentunya memiliki keuntungan yang lebih. Aman, Alami, dan punya efek pengawetan.

Jawabannnya ada.

Asap Cair yang adalah jawaban yang tepat. Asap cair yang diperoleh dari arang batok kelapa, ternyata juga bisa menggantikan fungsi NaOH. lebih alami, aman dan ada efek pengawetan pada kayu.

Dengan menggunakan asap cair grade 3, dan dengan dicampur dengan spirtus, kayu-kayu sengon yang terlihat putih setelah dioleh oleh asap cair, terlihat tua. hal itu telah dipraktekkan oleh pengrajin-pengrajin kayu untuk mainan. hasilnya bagus.

asap cair memiliki fungsi anti rayap, sehingga jika digunakan dapat menghindari dari serangan rayap yang dapat mengurangi umur pada kayu.

Para Pemimpin Sholih

Inna lillâhi wa inna iIayhi râji'ûn. Dengan ekspresi sedih, kata-kata itulah yang meluncur dari bibir Umar bin Abdul Aziz sesaat beliau dibaiat menjadi khalifah (kepala Negara Islam).

Sebelumnya, Umar memang sudah berusaha keras menolak untuk diangkat menjadi Khalifah. Namun, umat tampaknya lebih keras lagi 'memaksa' agar beliau bersedia menjadi Khalifah. Lalu terjadilah pembaiatan itu. Akhirnya, dengan ikhlas dan ridha, Umar menerima baiat umat. Namun, hal itu tidak membuat beliau tenang. Kegelisahan di dada ia bawa saat pulang ke rumahnya. Ia mengurung di kamarnya. Ia menangis. Dalam benaknya terbayang, jutaan rakyatnya siap menuntutnya di hadapan Pengadilan Allah pada Hari Kiamat nanti jika ia tidak bisa melayani, mengayomi dan melindungi mereka. Karena itulah, bagi beliau, amanah kekuasaan yang baru saja beliau terima adalah 'musibah besar'. Khalifah Umar bin Abdul Aziz menyadari betul sabda Baginda Nabi saw., “Sesungguhnya kekuasaan itu amanah. Pada Hari Kiamat nanti ia akan berubah menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haq dan menunaikan apa yang diamanahkan di dalamnya.” (HR Muslim).

*****

Dalam Islam, kekuasaan tentu bukan sesuatu yang haram. Bahkan hanya dengan kekuasaanlah Islam di muka bumi ini bisa benar-benar tegak, hukum-hukum Allah bisa kokoh berdiri, umat Islam bisa terlindungi dari ancaman musuh dan risalah Islam bisa tersebar luas dengan dakwah dan jihad. Dengan kekuasaan pula Islam sebagai rahmatan lil 'alamin betul-betul bisa terwujud. Itulah realitas yang benar-benar terjadi saat kekuasaan itu berada di tangan orang-orang salih, zuhud, wara' dan amanah seperti halnya Umar bin Abdul Aziz, atau generasi yang lebih awal, yakni Khulafaur Rasyidin.

Namun demikian, selama penguasa adalah manusia, bukan nabi, mereka berpotensi keliru dan menyimpang dalam menjalankan amanah kekuasaannya. Inilah yang senantiasa 'menghantui' generasi salafush-shalih sehingga sejauh mungkin mereka akan menolak jika diberi amanah kekuasaan. Jika pada akhirnya mereka 'dipaksa' harus menerima beban amanah kekuasaan, mereka begitu takut dihisab oleh Allah SWT pada Hari Akhirat nanti jika mereka tidak amanah. Inilah yang tergambar dari ucapan terkenal Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., “Seandainya ada seekor keledai terperosok di Kota Bagdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir Allah SWT akan meminta tanggung jawabku di Akhirat nanti.”

Inilah pula yang tergambar dari sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz saat beliau 'ditegur' oleh putranya, “Ayah, bagaimana jika ada rakyat Ayah yang begitu membutuhkan Ayah, sementara Ayah sedang duduk beristirahat di rumah?”

Seketika Khalifah Umar sadar, lalu bangkit dan kembali bekerja melayani rakyat. Padahal Khalifah Umar baru beberapa menit saja melepaskan penat. Keringat pun masih membasahi tubuhnya karena setiap hari hampir sebagian besar waktunya habis untuk mengurus dan melayani rakyatnya.

Jangan lupa, sikap dan perilaku para penguasa Muslim yang luar biasa seperti itu adalah saat negara benar-benar menerapkan syariah Islam secara total dalam institusi Khilafah Islamiyah. Artinya, selama mereka 'lurus-lurus' saja dan benar-benar menerapkan syariah itu secara benar, kekhawatiran untuk tidak amanah atau berlaku lalim terhadap rakyat seharusnya tidak perlu terjadi.

*****

Jika generasi salafush-shalih begitu khawatir dan takut menjadi penguasa, manusia-manusia zaman sekarang justru berlomba-lomba meraihnya. Dengan segala cara, meski harus menghamburkan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah, mereka berusaha mewujudkan mimpinya; entah menjadi presiden/wapres, sekadar menjadi kepala daerah, ataupun menjadi wakil rakyat. Dalam hal ini, 'keberanian' mereka mengalahkan 'keberanian' Khalifah Umar bin al-Khaththab atau Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Bagaimana tidak! Keduanya, saat menjabat sebagai khalifah, begitu takutnya terhadap hisab Allah pada Hari Akhir nanti atas kepemimpinannya di dunia. Sebaliknya, manusia-manusia zaman sekarang yang sangat ambisi kekuasaan, begitu beraninya 'menantang' hisab Allah SWT.

Saat mereka berhasil menjadi penguasa, kepala daerah atau wakil rakyat, bukan kegelisahan dan isak tangis yang mereka tunjukkan (sebagaimana yang ditunjukkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz), namun kegembiraan dan rasa syukur. Jika demikian, sesungguhnya mereka tidak sedang bersyukur, tetapi sedang ber-'sukur' (sukr, b. arab; mabuk). Ya, mereka sedang 'mabuk kekuasaan'. Mereka lupa bahwa dengan kekuasaan, jabatan atau posisi sebagai wakil rakyat yang mereka raih dalam sistem sekular yang tidak menerapkan hukum-hukum Allah itu, mereka sebetulnya sedang berjalan menuju ke neraka; mereka sedang berlomba masuk ke dalamnya. Wal 'iyâdz billâh![] mediaumat.com