Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jongko Joyoboyo

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
One day there will be a cart without a horse.

Tanah Jawa kalungan wesi.
Tanah Jawa berkalung besi.
The island of Java will wear a necklace of iron.

Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Perahu berlayar di ruang angkasa.
There will be a boat flying in the sky.

Kali ilang kedhunge.
Sungai kehilangan lubuk.
The river will loose its current.

Pasar ilang kumandhang.
Pasar kehilangan suara.
There will be markets without crowds.

Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
Itulah pertanda jaman Jayabaya telah mendekat.
These are the signs that the Jayabaya era is coming.

Bumi saya suwe saya mengkeret.
Bumi semakin lama semakin mengerut.
The earth will shrink.

Sekilan bumi dipajeki.
Sejengkal tanah dikenai pajak.
Every inch of land will be taxed.

Jaran doyan mangan sambel.
Kuda suka makan sambal.
Horses will devour chili sauce.

Wong wadon nganggo pakeyan lanang.
Orang perempuan berpakaian lelaki.
Women will dress in men’s clothes.

Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik.
These are signs that the people is facing the era of turning upside down.

Akeh janji ora ditetepi.
Banyak janji tidak ditepati.
Many promises unkept.

Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe.
Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
Many break their oath.

Manungsa padha seneng nyalah.
Orang-orang saling lempar kesalahan.
People will tend to blame on each other.

Ora ngendahake hukum Allah.
Tak peduli akan hukum Allah.
They will ignore God’s law.

Barang jahat diangkat-angkat.
Yang jahat dijunjung-junjung.
Evil things will be lifted up.

Barang suci dibenci.
Yang suci (justru) dibenci.
Holy things will be despised.

Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit.
Banyak orang hanya mementingkan uang.
Many people will become fixated on money.

Lali kamanungsan.
Lupa jati kemanusiaan.
Ignoring humanity.

Lali kabecikan.
Lupa hikmah kebaikan.
Forgetting kindness.

Lali sanak lali kadang.
Lupa sanak lupa saudara.
Abandoning their families.

Akeh bapa lali anak.
Banyak ayah lupa anak.
Fathers will abandon their children.

Akeh anak wani nglawan ibu.
Banyak anak berani melawan ibu.
Children will be disrespectful to their mothers.

Nantang bapa.
Menantang ayah.
And battle against their fathers.

Sedulur padha cidra.
Saudara dan saudara saling khianat.

Siblings will collide violently.

Kulawarga padha curiga.
Keluarga saling curiga.
Family members will be suspicious of each other.

Kanca dadi mungsuh.
Kawan menjadi lawan.
Friends become enemies.

Akeh manungsa lali asale.
Banyak orang lupa asal-usul.
People will forget their roots.

Ukuman Ratu ora adil.
Hukuman Raja tidak adil
The ruler’s judgments will be unjust.

Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
Banyak pembesar jahat dan ganjil
There will be many peculiar and evil leaders.

Akeh kelakuan sing ganjil.
Banyak ulah-tabiat ganjil
Many will behave strangely.

Wong apik-apik padha kapencil.
Orang yang baik justru tersisih.
Good people will be isolated.

Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.
Banyak orang kerja halal justru malu.
Many people will be too embarrassed to do the right things.

Luwih utama ngapusi.
Lebih mengutamakan menipu.
Choosing falsehood instead.

Wegah nyambut gawe.
Malas menunaikan kerja.
Many will be lazy to work.

Kepingin urip mewah.
Inginnya hidup mewah.
Seduced by luxury.

Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
They will take the easy path of crime and deceit.

Wong bener thenger-thenger.
Si benar termangu-mangu.
The honest will be confused.

Wong salah bungah.
Si salah gembira ria.
The dishonest will be joyful.

Wong apik ditampik-tampik.
Si baik ditolak ditampik.
The good will be rejected.

Wong jahat munggah pangkat.
Si jahat naik pangkat.
The evil ones will rise to the top.

Wong agung kasinggung.
Yang mulia dilecehkan
Noble people will be abused.

Wong ala kapuja.
Yang jahat dipuji-puji.
Evil doers will be worshipped.

Wong wadon ilang kawirangane.
Perempuan hilang malu.
Women will become shameless.

Wong lanang ilang kaprawirane.
Laki-laki hilang perwira
Men will loose their courage.

Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
Banyak perempuan ingkar pada suami.
Women will be unfaithful to their husbands.

Akeh ibu padha ngedol anake.
Banyak ibu menjual anak.
Mothers will sell their babies.

Akeh wong wadon ngedol awake.
Banyak perempuan menjual diri.
Women will engage in prostitution.

Akeh wong ijol bebojo.
Banyak orang tukar pasangan.
Couples will trade partners.

Wong wadon nunggang jaran.
Perempuan menunggang kuda.
Women will ride horses.

Wong lanang linggih plangki.
Laki-laki naik tandu.
Men will be carried in a stretcher.

Randha seuang loro.
Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
Two divorcees will be valued at 8,5 cents.

Prawan seaga lima.
Lima perawan lima picis.
A virgin will be valued at 10 cents.

Dhudha pincang laku sembilan uang.
Duda pincang laku sembilan uang.
A crippled widower will be valued at nine uang’s

Akeh wong ngedol ngelmu.
Banyak orang berdagang ilmu.
Many will earn their living by trading their knowledge.

Akeh wong ngaku-aku.
Banyak orang mengaku diri.
Many will claims other’s merits as their own.

Njabane putih njerone dhadhu.
Di luar putih di dalam jingga.
White outwardly but orange inwardly

Ngakune suci, nanging sucine palsu.
Mengaku suci, tapi palsu belaka.
They will proclaim their righteousness despite their sinful ways.

Akeh bujuk akeh lojo.
Banyak tipu banyak muslihat.
Many will use sly and dirty tricks.

Akeh udan salah mangsa.
Banyak hujan salah musim.
Rains will fall in the wrong season.

Akeh prawan tuwa.
Banyak perawan tua.
Many women will remain virgins into their old age.

Akeh randha nglairake anak.
Banyak janda melahirkan bayi.
Many divorcees will give birth.

Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne.
Banyak anak lahir mencari bapanya.
Newborns will search for their fathers.

Agama akeh sing nantang.
Agama banyak ditentang.
Religions will be attacked.

Prikamanungsan saya ilang.
Perikemanusiaan semakin hilang.
Humanitarianism will no longer have importance.

Omah suci dibenci.
Rumah suci dijauhi.
Holy temples will be hated.

Omah ala saya dipuja.
Rumah maksiat makin dipuja.
They will be more fond of praising evil places.

Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
Di mana-mana perempuan lacur
Prostitution will be everywhere.

Akeh laknat.
Banyak kutuk
There will be many worthy of damnation.

Akeh pengkianat.
Banyak pengkhianat.
There will be many betrayals.

Anak mangan bapak.
Anak makan bapak.
Children will be against father.

Sedulur mangan sedulur.
Saudara makan saudara.
Siblings will be against siblings.

Kanca dadi mungsuh.
Kawan menjadi lawan.
Friends will become enemies.

Guru disatru.
Guru dimusuhi.
Guru is treated as an enemy.

Tangga padha curiga.
Tetangga saling curiga.
Neighbours will become suspicious of each other.

Kana-kene saya angkara murka.
Angkara murka semakin menjadi-jadi.
And ruthlessness will be everywhere.

Sing weruh kebubuhan.
Barangsiapa tahu terkena beban.
The eyewitness has to take the responsibility.

Sing ora weruh ketutuh.
Sedang yang tak tahu disalahkan.
The ones who know nothing will be prosecuted.

Besuk yen ana peperangan.
Kelak jika terjadi perang.
One day when there will armagedon.

Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
In the east, in the west, in the south, and in the north.

Akeh wong becik saya sengsara.
Banyak orang baik makin sengsara.
Good people will suffer more.

Wong jahat saya seneng.
Sedang yang jahat makin bahagia.
Bad people will be happier.

Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul.
Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
When this happens, crow will be said heron.

Wong salah dianggep bener.
Orang salah dipandang benar.
The wrong person will be assumed to be honest.

Pengkhianat nikmat.
Pengkhianat nikmat.
Betrayers will live in the utmost of material comfort.

Durjana saya sempurna.
Durjana semakin sempurna.
The deceitful will decline even further.

Wong jahat munggah pangkat.
Orang jahat naik pangkat.
The evil persons will rise to the top.

Wong lugu kebelenggu.
Orang yang lugu dibelenggu.
The modest will be trapped.

Sabar dan Sukur

Ada dua perkara, siapa saja memilikinya, Allah SWT mencatatnya seba-gai orang yang ber-syukur dan sabar; dan siapa saja tidak memilikinya, Allah tidak mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Siapa saja yang dalam urusan agamanya memandang kepada orang yang lebih tinggi darinya, lalu dia berusaha meneladaninya, dan dalam urusan agama-nya melihat kepada orang yang lebih rendah darinya, lalu ia memuji Allah SWT atas karunia-Nya yang telah Dia berikan kepadanya, maka Allah SWT mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Siapa saja yang dalam urusan agamanya memandang kepada orang yang lebih rendah darinya, dan dalam urusan dunia-nya melihat kepada orang yang lebih tinggi darinya, lalu ia bersedih atas apa yang tidak ada pada dirinya dari dunia itu, maka Allah SWT tidak mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan sabar.” (HR at-Tirmidzi).

Terkait dengan sabda Baginda Nabi Muhammad SAW ini, dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarh Jâmi' at-Tirmidzi, Muhammad Abdurrahman bin Abdurra-him al-Mubarakfuri menjelaskan: Pertama, memandang kepada orang yang tinggi da-lam urusan agamanya maknanya adalah memandang kepada orang yang lebih banyak ilmu agamanya, amal shalihnya, sikap qanâ'ah-nya dan riyâdhah (pengen-dalian jiwa)-nya. Kedua, melihat kepada orang yang lebih rendah dalam urusan dunianya maksudnya adalah melihat kepada orang yang lebih fakir dan lebih sedikit hartanya. Ketiga, yang dimaksud dengan memandang kepada orang yang lebih rendah dalam urusan agama adalah bahwa ia merasa cukup bahkan bangga dengan amal shalih yang telah ia lakukan. Keempat, yang dimaksud melihat kepada orang yang lebih tinggi dalam urusan dunianya adalah melihat kepada orang kaya yang selalu fokus mengejar kekayaan, diperbudak harapan dan angan-angan serta berlaku riya.

Al-Mubarakfuri lalu mengutip firman Allah SWT (yang artinya): ...supaya kalian tidak bersedih atas apa saja yang luput dari diri kalian dan tidak pula terlalu gembira dengan apa saja yang telah kalian peroleh.” (TQS al-Hadid [57]: 23)

Terkait dengan ayat di atas, Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya memberi-kan paparan berikut:

Janganlah kalian berduka cita atas rezeki yang luput dari diri kalian. Hal itu karena, jika kalian sudah tahu bahwa rezeki itu tak ada yang abadi, maka tidak layak kalian bersedih atas hilangnya rezeki itu dari tangan kalian. Ibn Mas'ud menu-turkan bahwa Nabi SAW. pernah bersabda, ”Salah seorang di antara kalian tidak akan merasakan nikmatnya iman hingga menya-dari bahwa apa saja yang menimpanya tidak mungkin keliru dan apa saja yang keliru tidak mungkin menimpanya.”

Maknanya, janganlah kalian berse-dih atas dunia yang hilang dari tangan kalian, karena itu berarti tak ditakdirkan untuk kalian. Sebab, jika memang ditak-dirkan milik kalian, tentu ia tak akan hilang dari tangan kalian.

Imam Ja'far ash-Shadiq ra. berkata, ”Wahai anak Adam, mengapa engkau berduka atas sesuatu yang tiada, semen-tara engkau tak bisa mencegahnya jika sesuatu itu hilang darimu? Mengapa pula engkau gembira atas sesuatu yang ada, sementara kematian tak akan membiarkan sesuatu itu tetap ada padamu?”

Kutipan hadits serta beberapa ko-mentar di atas pada dasarnya mengajari kita agar: Pertama, dalam urusan agama kita harus selalu melihat kepada orang yang lebih tinggi dan lebih utama dari diri kita. Dengan itu, kita akan selalu merasa diri kita kurang dalam kualitas beragama maupun dalam kuantitas amal shalih kita. Dengan itu pula, kita akan senantiasa terdorong untuk terus mengejar segala kekurangan kita dalam beragama untuk menuju 'kesempurnaan' agama kita. Kedua, dalam urusan dunia kita selalu melihat kepada orang yang lebih rendah dari kita. Dengan itu, kita akan selalu banyak bersyukur atas apa yang kita miliki, tidak mudah berlecil hati dan berduka atas sedikitnya harta.

Sayangnya, banyak di antara kita yang justru bersikap sebaliknya: meman-dang 'ke bawah' dalam urusan agama, tetapi melihat 'ke atas' dalam urusan dunia. Akibatnya, dalam hal kualitas beragama dan kuantitas amal-amalnya, ia merasa cukup dan tak pernah merasa kekurangan. Sebaliknya, dalam urusan dunia, ia tak pernah merasa puas atas apa yang dia miliki dan terus terobsesi untuk mengejarnya lebih banyak lagi. Tak jarang, dengan itu ia dilalaikan oleh kesibukan mencari harta untuk kehidupan dunia yang fana dan semu ini, serta lupa untuk terus memperbanyak amal shalih demi bekal untuk kehidupan akhirat yang abadi dan hakiki. Bagi orang yang seperti ini, alangkah baiknya merenungkan kata-kata seorang penyair yang dinukil Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi dalam kitabnya, Nashâ'ih al'-Ibâd, sebagai berikut:

Duhai yang tersibukkan dunia

panjang anganmu tlah menipumu

Duhai yang selalu terpedaya

ajalmu makin mendekat padamu

Kematian itu datang tiba-tiba

dan kuburanlah akhir dari segala

Pengadilan Akhirat

Dalam sebuah hadis dijelaskan, bahwa pernah seorang wanita ternama dari suku Makhzumi mencuri pada zaman Rasulullah SAW. Keluarganya mencoba mendapatkan keringanan hukuman dari Rasul SAW. agar tidak diterapkan atasnya hukuman potong tangan. Mendengar dan melihat gelagat mereka, beliau marah sambil berkata, "Wahai manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur karena mereka menerapkan hukum secara 'tebang pilih'. Ketika yang mencuri itu dari kalangan terhormat, mereka membiarkannya. Namun, jika yang mencuri itu dari kalangan lemah (rakyat jelata), mereka menerapkan hukuman atas mereka. Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, bahkan seandainya Fathimah anak kesayangan Muhammad mencuri, pasti Muhammad akan memotong tangannya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Secara tersurat, sabda Baginda Rasulullah SAW. di atas menegaskan, bahwa saat hukum diberlakukan secara tidak adil hanya berpihak kepada yang kuat dan cenderung menzalimi yang lemah maka kehancuran masyarakat pasti akan terjadi. Kenyataannya, saat ini apa yang disinggung Rasulullah saw. di atas benar-benar terjadi. Di alam sekularisme yang menerapkan hukum-hukum buatan manusia, termasuk di negeri ini, keadilan menjadi semacam barang mewah yang musykil bisa dinikmati oleh rakyat kecil dan lemah; ia seolah hanya milik para pejabat dan mereka yang punya duit. Di negeri ini rakyat kecil yang mencuri benda senilai beberapa rupiah saja bisa dijerat hukuman beberapa bulan. Sebaliknya, para pejabat yang punya kuasa atau mereka yang punya duit bisa bebas melenggang dari jeratan hukuman meski mereka menilep miliaran hingga triliunan uang negara.

Itulah pengadilan di dunia; sebuah pengadilan semu, bahkan palsu; pengadilan yang menjadi alat untuk sekadar menghukum rakyat kecil; pengadilan yang hukumannya tidak akan mampu menghapus dosa-dosa para kriminal; pengadilan yang para penegak hukumnya bermental bobrok, tidak memiliki rasa takut kepada Allah SWT, mudah dibeli, serta gampang tergoda oleh rayuan uang, harta, wanita dan kenikmatan dunia lainnya. Mereka seolah lupa, bahwa meski mereka lihai mempermainkan hukum di dunia, dan meski mereka sering lepas dari pengadilan manusia di dunia, mereka tak akan pernah bisa melepaskan diri dari hukuman di Pengadilan Akhirat. Allah SWT berfirman: (Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur dan menuju Mahsyar); tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman), "Milik siapakah kerajaan pada hari ini?" Milik Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya." (TQS Ghafir [40]: 16 -17).

Mereka lupa, bahwa di dunia boleh saja mereka bisa lepas dari jeratan hukum. Namun, di akhirat mereka mustahil bisa lari dari hukuman dan azab Allah SWT. Tentu saja karena di Pengadilan Akhirat, dengan Allah sebagai Hakimnya, tidak akan ada sogok-menyogok, beking-membekingi atau kongkalingkong. Semuanya tunduk dan bertekuk lutut di hadapan kekuasaan dan Keperkasaan-Nya. Di Pengadilan Akhirat semua ucapan dan perbuatan ditimbang seadil-adilnya; tak ada yang terlewatkan, kendati hanya sebesar biji sawi (TQS al-Zalzalah [99]: 7-8).

Di Pengadilan Akhirat tak satu pun yang dapat menolong. Di sana seluruh harta, anak, jabatan dan apa saja yang dibanggakan di dunia ini tidak akan berguna sama sekali. Hanya hati yang selamat (qalb[un] salîm) yang dapat menolong (TQS asy-Syua'ra' [26]: 8889).

Setiap manusia maju sendiri-sendiri di hadapan Pengadilan Allah Yang Maha adil untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatannya (TQS Maryam [19]: 95). Siapapun tidak akan bisa lolos dari hukuman. Mereka tidak akan bisa berbohong dan berkelit. Sebab, mulut-mulut mereka terkunci, sementara anggota tubuh mereka (tangan, kaki, telinga, mata dan kulit) menjadi saksi (TQS Yasin [36]: 65).

Para pendosa akan menerima sik-saan yang amat pedih (QS al-Kahfi [18]: 26). Saat itu orang-orang kafir pun begitu takutnya terhadap azab di akhirat ini. "Pada hari itu, orang-orang kafir dan yang mendurhakai Rasul menginginkan agar mereka diratakan saja dengan tanah. Mereka takkan dapat menyembunyikan satu kejadian pun (dari Allah)." (TQS an-Nisa' [4]: 42).

Allah menegakkan timbangan di Pengadilan Akhirat nanti dengan akurat. "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat sehingga tiada dirugikan seseorang barang sedikitpun (TQS al-Anbiya' [21]: 47).

Sungguh beruntung orang-orang yang berat timbangannya dan merugilah orang-orang yang ringan timbangannya (TQS al-A'raf [7]: 8-9). Allah adalah Zat Yang Mahaadil dan tidak pernah menganiaya hamba-Nya sedikitpun. Hanya orang-orang Mukmin yang memiliki harapan akan datangnya rahmat Allah yang akan menyelamatkan nasib mereka pada hari yang paling menentukan itu. Semoga kita termasuk di dalamnya.[] arief b. Iskandar

PIKIRKAN......

  • Apapun yg engkau lakukan Cinta Allah selalu bersamamu. Engkau bisa bertingkah laku seperti binatang buas, engkau bisa melukaiku, tetapi masih saja Cinta Allah bersamamu, jadi aku juga mencintaimu. Hanya manusia pada level tertinggi dan yg terpilih yg dapat mencapai posisi tersebut dan kita berusaha untuk mencapainya. Tetapi, itu sangatlah sulit. Engkau harus mengetahui bahwa ini adalah ujian bagimu dan merupakan kesempatan untuk meraih peringkat spiritual. (Syaikh Hisyam Kabbani)
  • “Lebih baik aku dimarahi manusia dengan keridaan Allah ketimbang disukai manusia dengan kemurkaan Allah.” (Abu Dzar)
  • Orang yang suka menyalahkan orang lain pertanda masih harus belajar. Kalau sudah menyalahkan dirinya sendiri berarti sudah sedang belajar. Kalau sudah tidak lagi pernah menyalahkan orang lain berarti sudah selesai belajar, karena sudah ’arif. (Prof.Dr.Nasaruddin Umar MA.)
  • Wahai orang yang mengaku mencintai Allah Azza wa-Jalla cintamu tak akan sempurna hingga engkau membungkam arah dari segi hakmu, hingga tak tersisa kecuai satu arah saja, Allah Rabbul ‘Izzah (Syech Abd. Qadir J)
  • Aku tidak peduli dalam keadaan apa aku menjalani hari2ku, dalam kondisi yg kusukai/tidak kusukai. Karena aku tidak tahu mana yg lebih baik bagiku diantara keduanya. Karena aku hanya ingin ridha atas pengaturan ALLAH & tenang atas pilihan & ketentuan-Nya.. (Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.)
  • "Sungguh aku 'tidak' mendebat seseorang lalu ingin agar dia salah. Apabila aku berbicara kepada seseorang, maka sungguh aku menginginkan agar ia mendapat petunjuk, berbuat baik, mendapat pertolongan, serta memperoleh bimbingan & perlindungan Allah Swt. Dan aku mengiginkan agar Allah memperlihatkan kebenaran melalui lisannya atau melalui lisanku." (Imam Syafi'i)
  • Hakikat zikir adalah mengesakan Tuhan dengan si pezikir lenyap dari zikirnya sendiri, fana dalam kesaksian-Nya, serta hidup dalam penyaksian-Nya. Ia menyaksikan kebenaran bahwa ALLAH lah yg berzikir dan dizikiri.. (Ibnu Atha'illah)
  • BEGITU KITA YAKIN AKAN ALLAH, ALLAH AKAN MEMBUKTIKAN KEYAKINAN KITA DAN SEGALANYA SEPERTI DENGAN MUDAHNYA TERBUKA UNTUK KITA
  • Mengapa harus khawatir dg sesuatu selain ALLAH? Bukankah itu hanya bayang2 NAFSU yg harus diabaikan. YAKINLAH DG PERTOLONGAN-NYA YG AMAT DEKAT. DIA BERSAMA KITA.
  • LETIH & JENUH dlm mengarungi HIDUP ialah dampak dari RASA KUASA & MEMILIKI. Keluarlah dari RASA itu, terimalah HIDUP sbg AMANAT. Insya Allah TATMA'INUL QULUB..!
  • "Janganlah risau ketika tidak berhasil meraih apa yg diimpikan, karena tidak selamanya yang kita inginkan sesuai dengan kehendak & ketetapan ALLAH, semua itu adalah wujud keindahan pengaturan-NYA"
  • Orang yg paling manis senyumannya yaitu orang yg ketika ditimpa musibah & rintangan ia mengucapkan "Alhamdulillah" & "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun" seraya berkata : Ya Rabbi, aku ridha dgn ketentuan-Mu ini (sambil mengukir senyuman). Kemudian ia mengingat & bersyukur akan kebesaran ALLAH & menyesali akan dosa2nya, lalu mengalirlah air matanya.. :)
  • Dalam perjuangan selalu ada rintangan yg datang dari luar dirimu, tapi yg paling berat bila muncul dari dalam dirimu sendiri. Maka Jangan engkau katakan "NANTI BAGAIMANA?", tapi katakan "BAGAIMANA NANTI..". Jangan takut dan gentar menghadapi apa atau siapapun. Percayalah bahwa ALLAH beserta kita...
  • Janganlah merasa bisa (ke"aku"an) tapi bisalah merasa bahwa ALLAH-lah yg berkuasa atas segala sesuatu....

Nasihat Al Ghozali

Suatu hari, Imam Al-Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al-Ghozali bertanya....

Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid- muridnya menjawab "Orang tua, guru, kawan ,dan sahabatnya". Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "mati". Sebab, sesuai dengan janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.(Ali Imran : 185)

Kedua."Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab "Negara Cina, bulan, matahari dan bintang-bintang". Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Walau dengan cara apa sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab "Gunung, bumi dan matahari". semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafs" (Al-A'raaf :179). Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Keempat. "Apa yang paling berat di dunia ini?". Ada yang menjawab "besi dan gajah" Semua jawaban adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang amanah" (Al-Ahzab:72) Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Kelima. "Apa yang paling ringan di dunia ini?" Ada yang menjawab "Kapas, angin, debu dan daun-daunan". Semua itu benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “meninggalkan sholat”. Gara-gara pekerjaan, kita meninggalkan sholat; gara-gara bermasyarakat, kita meninggalkan sholat.

Keenam. "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang". Benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia" Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri

NASIHAT ORANG TUA TERHADAP ANAK

Wahai anakku, semoga Allah SWT memberi umur panjang kepadamu untuk taat kepada-Nya dan membembingmu ke jalan orang-orangyang dicintaiNya.

Rasulullah Saw bersabda:
“Tanda-tanda kebencian Allah terhadap seseorang ialah apabila ia menyia-nyiakan waktu dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Apabila umur seseorang berlalu tetapi ia tidak menggunakanya untuk melakukan ibadah yang diperintahkan Allah, maka pantas baginya menyesal sepanjang masa.barang siapa yang telah berumur lebih darempat puluh tahun sedangkan amal baiknya belum mengalahkan kemaksiatannya, maka hendaklah ia bersiaga masuk neraka.”

Wahai anakku, nasihat itu mudah. Yang sukar adalah menerimanya, sebab nasihat itu akan terasa pahit bagi orang yang memperturutkan kehendak nafsunya. Dan janganlah engkau hidup dalam keadaan miskin amal dan kehilangan semangat kerja. Tanamkan dalam dirimu, bahwa ilmu yang tidak disertai amal tidak akan menyelamatkanmu.

Wahai anakku, selama kamu tidak beramal selama itu pula kamu tidak tidak akan mendapat pahala.

Rasulullah Saw bersabda:
“Perhitungkanlah dirimu sebelum amalmu diperhitungkan dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang hari kiamat nanti.”

Ali bin Abi Thalib juga menegaskan:
“Barang siapa berprasangka bahwa tanpa bersusah payah ia dapat mencapai surga, maka itu bagaikan mimpi di siang bolong. Barang siapa yang berprasangka bahwa semata-mata dengan menggunakan kecakapan dan kekuatan ia dapat mencapai sesuatu, maka berarti ia sudah tidak membutuhkan Allah.”

Rasulullah Saw bersabda:
“Orang pandai adalah orang yang mengetahui dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Dan orang yang bodoh adalah yang memperturutkan kehendak nafsunya dan selalu berangan-angan kosong terhadap kemurahan Allah.”

Wahai anakku, hiduplah sekehendak hatimu, tetapi ingat kamu akan mati. Cintailah siapa saja yang kamu suka. Tetapi ingat, kamu akan mendapatkan balasan setimpal dengan perbuatanmu itu!

Wahai anakku, ilmu tanpa disertai amal adalah gila dan amal tanpa ilmu sangat sia-sia. Ilmu pengetahuan tidak akan menjauhkan dirimu dari kemaksiatan di dunia ini, tidak akan membawamu kepada jalan ketaatan kepada Allah Swt, tidak akan dapat memelihara kamu dari amukan neraka jahannam, bila semua ilmumu itu tidak diamalkan.

Wahai anakku, jadikanlah cita-citamu sebagai ruh. Kekalahan menjadi belenggu hawa nafsu, dan mati menjadi pakaianmu. Rumah masa depanmu adalah kuburan. Setiap saat, ahli kubur menunggu kehadiranmu di tengah-tengah mereka. Oleh karena itu, pelihara dan jagalah dirimu. Jangan sampai kamu hadir di tengah-tengah mereka dengan keadaan compang-camping, tidak membawa bekal apapun.

Abu Bakar As Sidik berkata:
“Tubuh ini ibarat sangkar burung atau kandang binatang.”

Wahai anakku, hendaklah kamu berlindung kepada Allah Swt. Janganlah sampai dirimu menjadi binatang seperti yang dicerminkan Allah Swt dalam firmanNya:
“Dan sesungguhkan Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Dan mereka mempunyai telinga, tapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang lalai.” (QS. Al Araaf: 179)

Wahai anakku, jika menurut engkau dengan hanya memiliki ilmu saja sudah cukup tanpa perlu diamalkan, maka akan sia-sialah seruan Allah yang menyuruh kamu berdoa dan beristigfar.

Allah Swt berfirman:
“Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Robbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Al Israa: 79)
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah.” (Adz Dzuriyaat: 17-18)
“Yakni orang-orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.’ Yakni orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, dan yang memohon ampunan di waktu sahur.” (Al Imran: 16-17)

Rasululloh Saw bersabda:
“Ada tiga suara yang dicintai Allah, yaitu: suara ayam jantan yang berkokok menjelang waktu subuh, suara orang yang membaca Al Qur’an dan suara orang yang memohon ampunan di waktu subuh.”

Wahai anakku, puncak ilmu pengetahuan adalah apabila dirimu mengetahui sedalam-dalamnya makana “taat” dan “ibadat”. Ketahuilah anakku, bahwa taat dan ibadat ialah tunduk kepada Allah. Melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala laranganNya, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.

Wahai anakku, hendaklah setiap perkataan, perbuatan, dan apa saja yang kamu tinggalkan sesuai dengan hukum syara’. Jalan ibadah hanya dapat ditempuh dengan mendidik kehendak nafsu dan berjihad mengalahkan nafsu syahwat yang tak terkendali. Ini dapat kau lakukan hanya dengan riyadhah (shaum) dan ketajaman pedang pendidikan, bukan dengan tutur kata yang manis dan ajakan yang menarik perhatian.
Ketahuilah anakku, lidah yang berucap dan hati yang tertutup oleh kelalaian dan nafsu yang rendah merupakan tanda-tanda kemalangan yang besar. Jika nafsu tidak kamu tundukkan dengan kesungguhan jihad, maka hatimu tidak akan bercahaya ma’rifat kepada Allah Swt

“Kejahatan” Orang Tua pada Anak

Anak-anak merupakan sosok pribadi yang masih lemah, polos, dan mudah terkena bujuk rayu seseorang. Kepolosan seorang anak seringkali disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka melakukan eksploitasi pada anak demi keuntungan pribadi semata. Hal ini tentunya merupakan kejahatan yang perlu mendapat perhatian serius, baik oleh aparat, masyarakat, dan yang terpenting adalah orang tua.

Kejahatan terhadap anak bukan hanya datang dari pihak luar. Bahkan pihak keluarga pun dapat menghadirkan “kejahatan” pada anak-anak. Kejahatan tersebut bisa saja terlihat secara nyata (fisik) maupun “kejahatan” yang akan mempengaruhi kepribadiannya kelak.

Lantas, apa saja bentuk “kejahatan” yang sering dilakukan oleh orang tuanya, yang seringkali tidak diketahui oleh pihak luar, karena dampaknya lebih kepada psikologi si anak? Berikut beberapa diantaranya:

1. Memaki dan Menghina Anak

Anak-anak sering melakukan hal-hal yang tidak terduga. Tak jarang, nasihat orang tua hanya melintas di kepala mereka. Mereka pun tidak jarang terlibat dalam insiden kecil, yang membuat orang tua naik pitam. Akibatnya, orang tua pun bertindak melebihi batas kewajaran.

Kita sering menemukan orang tua yang memarahi anak-anaknya. Mungkin jika dilakukan dengan baik dan tidak berlebihan, hal ini adalah sesuatu yang wajar. Namun seringkali orang tua memarahi anak tidak pandang tempat dan tidak memperhitungkan perasaan si anak. Bahkan ada orang tua yang tega memarahi anaknya di depan teman-temannya!!

Tanpa disadari, apa yang dilakukan oleh orang tua ini akan membekas pada diri si anak. Anak merasa dihina dan dipermalukan di depan teman-temannya. Bukan oleh orang lain, tetapi oleh orang tuanya sendiri… hal ini membuat psikologi si anak “sakit”. Dan sebagai akibatnya, anak akan merasa rendah diri di hadapan teman-temannya.

2. Berlaku Tidak Adil pada Anak-anak

Anak yang satu tentu berbeda dengan anak yang lain, termasuk dengan saudaranya. Sebab, tidak ada orang yang sama persis degan orang lain, meskipun mereka kembar sekalipun. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dan kekurangan ini bisa saja terlihat secara fisik maupun mental/psikisnya.

Namun sayangnya, tidak semua orang tua dapat meerima perbedaan antara anak yang satu dengan saudaranya. Seringkali orang tua membandingkan anaknya yang satu dengan anaknya yang lain, yang dianggap sebagai anak terbaik yang dimilikinya. Sebagai akibatnya, orang tua akan berlaku tidak adil terhadap anak-anaknya, meskipun tidak disadarinya.

Anak yang menerima perlakuan tidak adil akan merasa bahwa orang tua tidak menyayanginya. Ia akan lebih banyak menyendiri dan tidak mau bergabung dengan keluarganya. Si anak akan lebih senang menyimpan perasaannya sendiri. Sebab dalam pandangannya, meskipun ia telah berusaha menjadi seperti saudaranya, namun orang tuanya tetap akan memperlakukannya secara tidak adil. Akibatnya, anak akan terbebani secara mental, dan dapat terganggu perkembangan jiwanya.

3. Mendoakan Keburukan bagi Anak

Biasanya orang tua akan selalu mendoakan yang baik-baik untuk anaknya. Namun, jika ternyata kelakuan si anak dipandang sudah keterlaluan oleh orang tua, tidak jarang orang tua akan mengatakan hal-hal yang buruk pada si anak. Bahkan mungkin tanpa disadari orang tua akan mendoakan yang buruk. Ingatlah, bahwa ucapan orang tua itu dapat menjadi doa bagi anaknya……

4. Tidak Mendidik Anak

Tugas utama bagi orang tua adalah untuk mendidik dan membesarkan anaknya. Orang tua sebaiknya meluangkan waktu untuk mendidik anaknya dengan baik. Namun, di zaman yang seba sulit ini, banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai akibatnya, perawatan dan pendidikan si anak akan “diambil alih” oleh pihak ketiga, misalnya saja baby sitter. Padahal, belum tentu baby sitter ini memiliki kualitas sebagai pendidik yang baik. Selain itu, tentunya kasih sayang baby sitter kepada anak tidak akan seperti kasih sayang orang tua kandungnya.

Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, serta lebih mementingkan pekerjaan dari pada meluangkan waktu dengan anaknya merupakan orang tua yang kurang mampu mendidik anak. Ingatlah, bahwa anak akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Sebagai akibatnya, si anak akan mengikuti jejak orang tuanya di kemudian hari. Anak akan “melampiaskan” kekesalannya pada anaknya sendiri kelak. Kalau sudah begini, siapa yang salah??


Mungkin saja kita akan membantah melakukan hal-hal tersebut di atas. Namun, bisa saja kita tanpa sengaja justru telah melakukannya pada anak kita. Sudah saatnya kita lebih memperhatikan anak-anak kita, dan memberikan contoh yang baik kepada mereka. Ingatlah, hal pertama yang akan dicontoh anak adalah perilaku orang tuanya, entah itu yang baik maupun yang buruk sekalipun.

anurachman.wordpress.com

Mengingat Allah SWT

Zikrullâh (mengingat Allah) adalah amalan yang paling utama di sisi Allah SWT, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar (keutama-annya) (QS al-Ankabut: 45).

Rasulullah SAW. juga pernah bersabda, "Maukah aku kabari kalian dengan suatu amal yang paling baik dan paling suci di sisi Tuhan kalian, yang paling meninggikan derajat kalian di sisi-Nya…?" "Tentu saja," jawab para Sahabat. Beliau lalu berkata, "Zikrullâh (mengingat Allah)." (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibn Majah).



Terkait dengan hadis ini, Syaikh Zakaria al-Kandahlawi dalam Fadhâ'il al-A'mâl, menjelaskan bahwa keutamaan zikir ini berdasarkan keadaan umum. Sebab, dalam keadaan tertentu jihad, sedekah dan sebagaimna dipandang lebih utama.

Masalahnya, apa yang dimaksud dengan zikrullâh (mengingat Allah)? Para ulama setidaknya membagi zikrullâh menjadi tiga bagian. Pertama: zikir dengan lisan, yakni dengan memperbanyak melafalkan kalimat-kalimat thayyibah seperti istigfar, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dll. Dalam hal ini, Rasulullah SAW., misalnya, bersabda, "Zikir yang paling utama adalah mengucapkan Lâ ilâha illâ Allâh." (HR At-Tirmdizi, Ibn Majah dan Ahmad).

Kedua: zikir dengan kalbu (hati, akal), yakni dengan senantiasa memperbanyak tafakur (berpikir), murâqabah (merenung), dan muhâsabah (introspeksi diri). Di antara bagian dari tafakur adalah rajin meng-hadiri majelis-majelis ilmu, terutama ilmu-ilmu yang terkait dengan masalah fikih/syariah (halal-haram). Dalam hal ini, Rasulullah SAW., bersabda, "Jika kalian melewati taman-taman surga, maka berhentilah dan masuklah ke dalamnya." Para Sahabat bertanya, "Apakah taman-taman surga itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Majelis-majelis zikir." (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).

Para Sahabat Nabi SAW. ternyata memahami majelis zikir dalam hadis di atas sebagai majelis ilmu, yakni majelis yang membahas halal-haram, atau majelis yang membahas ihwal hukum-hukum syariah. Ini tentu bisa dipahami, karena dengan memahami halal-haram, setiap Muslim berpotensi untuk senantiasa terikat dengan hukum-hukum syariah dalam seluruh ucapan dan tindakannya. Ini sekaligus merupakan bentuk zikir yang ketiga: zikir dengan perbuatan. Inilah zikir yang paling utama. Mengapa? Sebab, zikir dengan lisan dengan memperbanyak melafalkan kalimat-kalimat thayyibah termasuk ibadah sunnah saja. Zikir dengan kalbu, misalnya, dengan banyak menghadiri majelis ilmu adalah bagian dari thalab al-'ilmi, yang memang hukumnya wajib. Namun, tentu ini tidak akan banyak berarti saat ilmu yang didapat tidak diamalkan dalam kehidupan. Bahkan jika ilmu dipelajari sekadar untuk bersaing dengan para ulama, atau untuk memper-daya orang-orang bodoh, dan tidak untuk diamalkan, justru hal ini hanya akan mengundang azab Allah SWT. Rasulullah SAW. pernah bersabda, "Siapa saja yang mencari ilmu demi bersaing dengan para ulama, memperdaya orang-orang bodah, atau mencari perhatian manusia, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam neraka." (HR at-Tirmidzi).

Adapun zikir dengan perbuatan, yakni dengan selalu mengikatkan ucapan dan tindakan pada hukum-hukum Allah SWT, menunjukkan bahwa pelakunya, selain telah mempelajari dan memahami hukum-hukum Allah, juga berarti telah melakukan amal yang baik (hasan al-amal). Amal yang baik inilah sesungguh-nya yang akan dinilai oleh Allah SWT, bukan semata-mata ilmunya. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman (yang artinya): Dialah Allah Yang telah menciptakan kematian dan klehidupan dalam rangka menguji manusia siapa yang terbaik amalnya (QS al-Mulk: 2).

Menurut Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, frasa ahsan al-'amalâ di antara-nya dimaknai dengan, "yang paling menahan diri dari hal-hal yang haram dan paling bersegera dalam menjalankan ketaatan."

Mudah-mudahan kita semuanya mampu selalu mengingat Allah (zikrullâh), baik dengan lisan, dengan kalbu, dan terutama dengan perbuatan. Jangan sampai lisan kita selalu basah dengan kalimat-kalimat thayyibah, kalbu (hati, akal) kita penuh dengan pengetahuan tentang hukum-hukum Allah, tetapi tindakan kita malah cerminan dari tindakan melupakan-Nya. Tentu tidak baik orang yang rajin menghadiri majelis-majelis zikir yang di dalamnya ia memper-banyak ucapan kalimat-kalimat thayyibah, bahkan dengan isak tangis penuh khusyuk, tetapi setelah keluar dari majelis-majelis itu dia pun tetap gemar meng-hadiri 'majelis-majelis' maksiat kepada Allah: tetap membuka aurat di hadapan khalayak, melakukan korupsi, membo-hongi dan menzalimi rakyat, tidak berlaku amanah, abai terhadap masalah-masalah yang menimpa umat, tetap menolak syariah-Nya untuk diterapkan dalam negara, dll. Semoga kita tidak seperti mereka. Wa mâ tawfîqî illâ billâh.[] mediaumat.com