Anak-anak merupakan sosok pribadi yang masih lemah, polos, dan mudah terkena bujuk rayu seseorang. Kepolosan seorang anak seringkali disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka melakukan eksploitasi pada anak demi keuntungan pribadi semata. Hal ini tentunya merupakan kejahatan yang perlu mendapat perhatian serius, baik oleh aparat, masyarakat, dan yang terpenting adalah orang tua.

Kejahatan terhadap anak bukan hanya datang dari pihak luar. Bahkan pihak keluarga pun dapat menghadirkan “kejahatan” pada anak-anak. Kejahatan tersebut bisa saja terlihat secara nyata (fisik) maupun “kejahatan” yang akan mempengaruhi kepribadiannya kelak.

Lantas, apa saja bentuk “kejahatan” yang sering dilakukan oleh orang tuanya, yang seringkali tidak diketahui oleh pihak luar, karena dampaknya lebih kepada psikologi si anak? Berikut beberapa diantaranya:

1. Memaki dan Menghina Anak

Anak-anak sering melakukan hal-hal yang tidak terduga. Tak jarang, nasihat orang tua hanya melintas di kepala mereka. Mereka pun tidak jarang terlibat dalam insiden kecil, yang membuat orang tua naik pitam. Akibatnya, orang tua pun bertindak melebihi batas kewajaran.

Kita sering menemukan orang tua yang memarahi anak-anaknya. Mungkin jika dilakukan dengan baik dan tidak berlebihan, hal ini adalah sesuatu yang wajar. Namun seringkali orang tua memarahi anak tidak pandang tempat dan tidak memperhitungkan perasaan si anak. Bahkan ada orang tua yang tega memarahi anaknya di depan teman-temannya!!

Tanpa disadari, apa yang dilakukan oleh orang tua ini akan membekas pada diri si anak. Anak merasa dihina dan dipermalukan di depan teman-temannya. Bukan oleh orang lain, tetapi oleh orang tuanya sendiri… hal ini membuat psikologi si anak “sakit”. Dan sebagai akibatnya, anak akan merasa rendah diri di hadapan teman-temannya.

2. Berlaku Tidak Adil pada Anak-anak

Anak yang satu tentu berbeda dengan anak yang lain, termasuk dengan saudaranya. Sebab, tidak ada orang yang sama persis degan orang lain, meskipun mereka kembar sekalipun. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dan kekurangan ini bisa saja terlihat secara fisik maupun mental/psikisnya.

Namun sayangnya, tidak semua orang tua dapat meerima perbedaan antara anak yang satu dengan saudaranya. Seringkali orang tua membandingkan anaknya yang satu dengan anaknya yang lain, yang dianggap sebagai anak terbaik yang dimilikinya. Sebagai akibatnya, orang tua akan berlaku tidak adil terhadap anak-anaknya, meskipun tidak disadarinya.

Anak yang menerima perlakuan tidak adil akan merasa bahwa orang tua tidak menyayanginya. Ia akan lebih banyak menyendiri dan tidak mau bergabung dengan keluarganya. Si anak akan lebih senang menyimpan perasaannya sendiri. Sebab dalam pandangannya, meskipun ia telah berusaha menjadi seperti saudaranya, namun orang tuanya tetap akan memperlakukannya secara tidak adil. Akibatnya, anak akan terbebani secara mental, dan dapat terganggu perkembangan jiwanya.

3. Mendoakan Keburukan bagi Anak

Biasanya orang tua akan selalu mendoakan yang baik-baik untuk anaknya. Namun, jika ternyata kelakuan si anak dipandang sudah keterlaluan oleh orang tua, tidak jarang orang tua akan mengatakan hal-hal yang buruk pada si anak. Bahkan mungkin tanpa disadari orang tua akan mendoakan yang buruk. Ingatlah, bahwa ucapan orang tua itu dapat menjadi doa bagi anaknya……

4. Tidak Mendidik Anak

Tugas utama bagi orang tua adalah untuk mendidik dan membesarkan anaknya. Orang tua sebaiknya meluangkan waktu untuk mendidik anaknya dengan baik. Namun, di zaman yang seba sulit ini, banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai akibatnya, perawatan dan pendidikan si anak akan “diambil alih” oleh pihak ketiga, misalnya saja baby sitter. Padahal, belum tentu baby sitter ini memiliki kualitas sebagai pendidik yang baik. Selain itu, tentunya kasih sayang baby sitter kepada anak tidak akan seperti kasih sayang orang tua kandungnya.

Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, serta lebih mementingkan pekerjaan dari pada meluangkan waktu dengan anaknya merupakan orang tua yang kurang mampu mendidik anak. Ingatlah, bahwa anak akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Sebagai akibatnya, si anak akan mengikuti jejak orang tuanya di kemudian hari. Anak akan “melampiaskan” kekesalannya pada anaknya sendiri kelak. Kalau sudah begini, siapa yang salah??


Mungkin saja kita akan membantah melakukan hal-hal tersebut di atas. Namun, bisa saja kita tanpa sengaja justru telah melakukannya pada anak kita. Sudah saatnya kita lebih memperhatikan anak-anak kita, dan memberikan contoh yang baik kepada mereka. Ingatlah, hal pertama yang akan dicontoh anak adalah perilaku orang tuanya, entah itu yang baik maupun yang buruk sekalipun.

anurachman.wordpress.com